Jawa Ngapak yang Bikin Ngakak.
“Mbok ngomonge ngapak wae tho….lucuu…..”
“Halah…kaya ngerti nek nyong ngomong ngapak…digeguyu thok lah….rika wis madang rung? Nyong kencot kie…”
Hahahhahahahha…..seketika tawa membahana di ruang HIMA….
Dulu saat pertama kali menjejakkan kaki di kampus, sering orang salah mengira asal-usul saya. Banyak yang tak menyangka kalau saya orang Banyumas asli, sli! Mungkin karena logat bicara yang tak terlalu ngapak, tapi bukan karena dibuat-buat apalagi malu dengan ke-ngapak-an saya.
Di rumah saya memang berkomunikasi dengan jawa ngapak, tapi di lingkungan rumah yang notabene orang Jawa penduduknya sebagian berkomunikasi dengan jawa ngapak, Karena terbiasa dengan lingkungan bahasa jawa ngapak inilah, barangkali, yang membuat logat bicara saya ngapak.
Banyak sekali teman-teman yang berasal dari daerah penutur logat ngapak (Cilacap, Banyumas, Purwokerto, Banjarnegara, Purbalingga, Tegal, Brebes, Slawi dan sekitarnya) merasa sedikit canggung dan malu ketika berhadapan atau berada di lingkungan penutur jawa bandhekan (istilah untuk bahasa jawa wetanan yang sering dianggap lebih halus). Bahasa jawa logat ngapak sering dianggap sebagai bahasa wong ndeso dan membuat orang mesam mesem alias senyam senyum ketika mendengarnya.
Persis seperti saat kita mendengar Parto Patrio atau Cici Tegal bertutur. Perbedaan antara logat ngapak dan bandhekan terlihat sekali pada penuturan kata-kata yang berakhiran dengan huruf ‘k‘. Jika dalam ngapak mengucapkan salak, maka terdengar mantap sekali ‘k‘-nya. Berbeda jika dalam bandhekan, huruf ‘k‘ dalam kata salak sedikit lesap (tidak sejelas seperti pengucapan dalam logat ngapak). Perbedaan lain, jawa ngapak lebih ‘jujur’ mengucapkan sebuah kata. Maksudnya begini, misal kata ana (artinya ada) dibaca ‘ono‘ dalam logat bandhekan, sedangkan dalam logat ngapak tetap diucapkan ‘ana’.
Jika yang lainnya malu-malu dengan ke-ngapak-an mereka, saya justru sering pamer ngapak di depan teman-teman yang notabene berasal dari Yogya, Kendal, Semarang, Solo, dan lainnya yang merupakan penutur jawa bandhekan. Meski menurut mereka logat saya tak terlalu ngapak, tapi justru teman-teman saya saat itu seneng bener kalau saya in action dengan bahasa ngapak.
“Gawe mumetku ilang ngrungokne kowe ngomong mbanyumasan…..hahahhahahaha…”
Seorang teman yang berasal dari Kendal, malah sampai ‘kursus’ bahasa ngapak ke saya, buat obat stres akibat rumus-rumus Kalkulus yang njlimet katanya.





















