‘Awitsaking raos prihatin, dene jaman saniki ketingalipun koh kathah sederek
Banyumas, ingkang kirang amarsudi dumatengbasanipun piyambak inggih
niku basa (logat) Banyumasan. Ing mangka basa Banyumasan niku arupi
budaya adi luhung, tilaran para leluhur, ingkang wajib kita ipuk-ipuk
amrih mboten siluman’
ini selain mengancam kearifan lokal budaya Banyumasan yang bertahan
hanya dengan budaya tutur,” tutur Tri Atmo, penulis buku itu, Minggu
(10/3).
Atmo, dalam Cerkak Dablongan, ada 17 buah judul cerita. Cerita itu
ditulis selama satu bulan dari ide yang muncul dan ditambah pengalaman
pribadi selama ini. “Sebenanrnya ada 30 buah judul tulisan, namun untuk
edisi Dablongan berisi 17 judul cerita, sisanya akan diterbitkan lagi
dengan judul ‘Semblothongan’. Tentu masih ditambah cerita lainnya yang
sedang saya tulis,” tutur lelaki kelahiran Purbalingga 5 Juni 1940 ini.
Dablongan dicetak oleh Purbadi Publishing Jakarta. Cetakan awal sebanyak
1.500 eksemplar dan diedarkan terbatas untuk warga Banyumas di Jakarta,
Purbalingga, Kerawang dan Palembang. Purbadi Publishing merupakan
percetakan milik Purbadi Hardjoprayitno, warga Purbalingga yang sukses
di Jakarta. Purbadi juga aktif dalam Yayasan Seruling Mas (Seruan Eling
Marang Banyumas).
Jaran Goyang, Bujang Khawak, Dhemit Doyan Dhuwit, Dhukun Beranak Ora
Manak, Jas Penganten, Juragan Duwit Klenger, Kedanan Lengger, Mati
Kemutan Dhuwit, Ketanggor Anake Dhewek dan sejumlah cerita lainnya.
“Isi cerita hampir mirip dengan kehidupan warga Banyumasam, dan banyak
cerita lucunya juga. Tak perlu penasaran, silahkan baca saja,” tutur Tri
Atmo setengah promosi.
usianya sudah menginjak 73 tahun, sosok Tri Atmo boleh dibilang
produktif dalam menuangkan ide-ide menulis. Pengalaman menulis diasahnya
selepas lulus pendidikan ilmu jurnalistik non formal ‘Pro
Patria’ Yogyakarta pada tahun 1959. kemudian pada 1962 – 1965 menjadi
pembantu wartawan kantor berita Antara di Purwokerto. Tri Atmo pernah
menjadi pemimpin redaksi majalah bulanan Panjuta Raya Penmas (kini
Diknas) di Purbalingga, menjadi wartawan Harian Nasional Yogyakarta yang kemudian berganti menjadi Suluh Marhen.
Tri Atmo juga pernah aktif menulis cerita Badai di Kaki Gunung Slamet yang dimuat di majalah Pemda Purbalingga ‘Warta Braling’ yang kemudian berganti menjadi ‘Derap Perwira’.
Sejumlah buku yang pernah ditulis antara lain cerita silat ‘Sotya
Ludira’ (1968) yang diterbitkan Djawatan Penerangan Purbalingga, Babad
dan Sejarah Purbalingga (1984) diterbitkan Pemda Purbalingga, Sejarah
Purbalingga (1993) diterbitkan oleh paguyuban Arsakusuma Jakarta, Kilas
Sejarah Purbalingga (2008-Pemda Purbalingga). Tri Atmo juga pernah
mendapat penghargaan oleh Bupati Drs H Heru Sudjatmoko, M.Si pada
peringatan Hari Jadi Purbalingga 18 Desember 2010 silam karena dinilai
memiliki andil dengan menulis buku Seejarah Purbalingga.
sumber: http://dinhubkominfo.purbalinggakab.go.id




















