Alhamdulillah sebagai wujud ikut berpartisipasi dalam melestarikan seni budaya warisan leluhur khususnya seni karawitan,kini Paguyuban Perantau Purbalingga sudah berhasil mendirikan wadah seni yang di kordinasikan oleh seksi seni dan kebudayaan Papeling yang di ketuai oleh Mukhyono. Seni Karawitan itu telah diberi nama GAGRAK PAPELING.
Tentang Gagrak Banyumas
Karawiatan Gagrak Banyumas atau karawitan Banyumasan merupakan salah satu gagrag dalam karawitan Jawa yang berkembang di luar lingkungan kraton Surakarta dan Yogyakarta . Dalam sajian-sajiannya tercermin adanya local genius yang didasarkan pada nilai-nilai lokal yang berada di luar tembok kraton.
Menurut Rene T.A. Lysloff (1992:88) penggunaan akhiran “an” di belakang nama tempat berkaitan dengan pandangan cenderung dimaksudkan untuk mengecilkan tradisi dan berhubungan dengan persoalan “ gaya “. Misalnya: karawitan Jawa Timuran, gagrag Banyumasan, gagrag Semarangan, dan-lain-lain.
Karawitan Banyumasan ditandai ada perbedaan yang tajam dibandingkan dengan karawitan kraton (Surakarta-Yogyakarta), baik pada bentuk gendhing, jenis instrumen, repertoargendhing maupun cara permainan instrumen. Semua itu terjadi karena adanya perbedaan sumber nilai yang diacu. Karawitan kraton bersumber dari konsep nilai adiluhung, sedangkan karawitan Banyumasan berangkat dari nilai kerakyatan dengan konsep kesederhanaan dan egaliter. Anderson Sutton berpendapat bahwa orang-orang lokal di Banyumas melihat diri mereka lebih sangat terbuka (blag-blagan), egalitarian, lebih santai dibanding orang Solo maupun Yogya (Sutton, 1991:70). Ini membuktikan di dalam diri orang Banyumas tidak tertanam sifat formal sebagaimana dijumpai di lingkungan kraton. Ini menjadi sifat dasar yang selanjutnya tercermin pada ekspresi dan spirit sajian karawitan yang berkembang di wilayah itu.
Sesuai basisnya yang berada di lingkungan rakyat kebanyakan, karawitan Banyumasan sering digolongkan ke dalam jenis karawitan rakyat. Rahayu Supanggah menyebutkan bahwa karawitan rakyat ditandai dengan penggunaan ricikan (instrumen) yang relatif sederhana. Karawitan jenis ini memiliki sifat yang spontanitas dan akrab dengan lingkungan, hampir meniadakan jarak fisik maupun psikologis antara seniman dengan penontonnya (Rahayu Supanggah, 1991). Demikianlah yang terjadi pada karawitan Banyumasan. Sajiangendhing-gendhing di dalamnya mengesankan hadirnya konsep kesederhanaan dan egalitarian yang mencerminkan konsep hidup masyarakat pendukungnya.
Berdasarkan struktur musik, garap guritan di dalam sajian gendhing Banyumasan mencerminkan adanya pengalaman individu seniman dalam konteks hubungan anter personal. Seperti diungkapkan John Blacking, struktur musik merefleksikan hubungan antar manusia (1995:31).
Dalam konteks ini, sajian garap guritan memberikan gambaran adanya jalinan hubungan antar seniman baik di dalam maupun di luar wilayah musik. Hasil sajian guritan tidak dapat dipisahkan dari nilainya sebagai ekspresi pengalaman estetik yang ada pada diri tiap-tiap seniman yang terlibat.




















