Jembatan Pelangi Dusun Sumingkir, Kecamatan Rembang

0
35
jembatan pelangi
Jembatan Pelangi Dusun Sumingkir, Kecamatan Rembang

Dari kejauhan terdengar riuh para pejalan kaki menyeberang jembatan. Bukannya melintas, mereka justru asyik duduk di beberapa sudut sembari mengeluarkan telepon pintarnya dan memotret pemandangan sekitar. Hampir setiap sore, jembatan berwarna-warni yang menghubungkan Dusun Sumingkir dengan jalan utama Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga, itu selalu ramai.

Mereka terkagum-kagum dengan jembatan gantung yang dicat dengan warna pelangi ini. “Jembatan ini lagi nge-hits di kalangan remaja Kecamatan Rembang dan sekitarnya. Banyak warga yang menyebutnya Jembatan Pelangi. Hampir setiap sore ramai pengunjung hanya untuk sekadar berfoto atau bersantai di tengah jembatan,” ujar Ina Farida, warga Desa Sumampir, ketika berkunjung ke jembatan yang tak lagi difungsikan untuk lalu lintas kendaraan ini. Suasana jembatan ini pun sangat berbeda dari kondisi setahun yang lalu.

Dahulu warga sempat merasa waswas dan tidak nyaman untuk melewati jembatan yang dibangun pada tahun 1977 ini atas bantuan Suparjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah saat itu. Bantuan itu sebagai balasan atas kebaikan warga Dusun Sumingkir yang telah membantunya selama mengungsi pada zaman perang kemerdekaan Indonesia. Kini yang terlihat hanya senyum dan tawa para pengunjung, bahkan ada beberapa pengunjung yang tiduran di jembatan. Jembatan sepanjang 60 meter dengan lebar sekitar 2,5 meter yang kedua sisinya hanya dibatasi rangkaian besi itu, kini telah berubah. Tidak menakutkan seperti dulu.

Berbagai macam warna terhampar di sepanjang jembatan, membuat suasana terkesan ceria. “Saya sengaja main ke sini. Aman, tidak takut, tadi saja sempat tiduran di jembatan. Penasaran lihat di foto-foto teman. Ternyata pas ke sini memang bagus. Tadinya tak kira bukan di Rembang,” ungkap Risky Praismi Triyuka, pengunjung dari Jatilawang Banyumas.

Pegiat organisasi kepemudaan Dusun Sumingkir, Beby Hanzian, menuturkan, pengecatan jembatan gantung dengan warna seperti pelangi ini lantaran mereka mulai jarang melihat pelangi. Konon, menurut cerita nenek moyang mereka, banyak bidadari yang bermain di sekitar kedung dekat jembatan ketika muncul pelangi. “Makanya, kami membuat versi nyatanya bukan hanya dongeng. Biar nanti banyak bidadari yang selfie di Jembatan Pelangi,” kelakarnya.

Dia mengatakan, pihak desa sengaja tidak memungut biaya untuk berkunjung ke kawasan tersebut. Terpenting, para pengunjung mematuhi aturan yakni melepas alas kaki saat masuk area jembatan, tidak mencoret-coret dan menjaga kebersihan. Demi keamanan, saat ini jumlah pengunjung yang boleh masuk pun dibatasi maksimal 15 orang. (Nugroho Pandhu Sukmono- 55)

Pengirim: Beby Hanzian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here