SERAT WULANGREH: ADIGANG ADIGUNG ADIGUNA

0
418

Adigang, Adigung dan Adiguna. Manusia hendaknya tidak mengandalkan
kelebihan yang dia miliki. (Adigang: Kekuatan; Adigung: Kekuasaan;
Adiguna: Kepandaian).

Kata-kata ini ada dalam Serat Wulangreh karya Sri Sunan Pakubuwana IV, pada Pupuh ke 3 (Sekar Gambuh) bait ke 4 – 10.Pada bait ke 4 di bawah, disebutkan bahwa Sifat Adigang diwakili oleh
“Kijang”, Adigung oleh Gajah (esthi) dan Adiguna oleh ular. 


(4) Ana pocapanipun
Adiguna adigang adigung
Pan adigang kidang adigung pan esthi
Adiguna ula iku
Telu pisan mati sampyoh



Terjemahan: Adalah ceritera; Adiguna adigang adigung; Kijang adalah
adigang dan gajah adalah adigung; Adiguna adalah ular; Ketiganya mati
bersama (sampyuh)


Apa yang diandalkan oleh kijang, gajah dan ular dapat dilihat pada
bait ke 5 di bawah. Kijang sombong dengan kecepatannya melompat, gajah
dengan badannya yang tinggi besar dan ular dengan bisanya yang mematikan. 


(5) Si kidang ambegipun Angandelaken kebat linumpatipun pan gajah ngandelaken geng ainginggil Ula ngandelaken iku mandine kalamun nyakot


Terjemahan: Adalah watak si Kijang; Mengandalkan kecepatannya
melompat; Sedangkan gajah mengandalkan tubuhnya yang tinggi besar;
Kemudian ular mengandalkan bisanya yang kuat.


Bait ke 6 di bawah amat menarik, karena Sri Susuhunan Pakubuwana IV
sebagai seorang raja kersa memberikan contoh “anak raja” untuk mewakili
sifat adigung. Jangan mengandalkan bahwa kamu itu anak raja. Siapa yang
berani. Itu adalah sifat Adigung yang merendahkan martabat.


(6) Iku umpamanipun Aja ngandelaken sira iku
Suteng nata iya sapa ingkang wani Iku ambege wong digung Ing wusanane dadi asor



Terjemahan: Sebagai contoh; Jangan mengandalkan kamu itu; Anak raja
siapa yang berani; Itu sifat orang adigung; Akhirnya menjadi hina.


Selanjutnya bait ke 7 dan 8 di bawah masing-masing menjelaskan sifat
adiguna yang membangga-banggakan kepandaiannya dan sifat adigang yang
pongah dengan kekuatannya. Ternyata kemudian mereka tidak mampu dan
gagal, akhirnya hanya menjadi bahan tertawaan.


(7) Adiguna puniku
Ngandelaken kapinteranipun
Samubarang kabisan dipundheweki
Sapa pinter kaya ingsun
Tuging prana nora injoh


Terjemahan: Adiguna itu; Mengandalkan kepandaian; Semua kepandaian hanya miliknya sendiri; Siapa pandai seperti saya; Ternyata akhirnya tidak mampu


(8) Ambeg adigang iku Ngandelaken ing kasuranipun Para tantang candhala anyanayampahi Tinemenan nora pecus
Satemah dadi guguyon



Terjemahan: Sifat adigang itu; mengandalkan kesaktiannya; Semua
ditantang dan dicela; Ternyata tidak becus; Akhirnya jadi bahan
tertawaan
Adapun bait ke 9 dan 10 berisi pesan supaya wong urip itu tidak
berperilaku yang tiga hal itu tapi hendaknya rereh ririh ngati-ati dan
waspada. Pada akhirnya, kijang, gajah dan ular mati karena lengah dan
akibat ulah sendiri.



(9) Ing wong urip puniku
Aja nganggo anggep kang tetelu
anganggoa rereh ririh ngati-ati
Den kawangwang barang laku
Den waskitha solahing wong



Terjemahan: Orang hidup itu; jangan memakai ketiga watak tersebut;
Gunakan kesabaran, kehalusan dan hati-hati; semua perbuatan kelihatan;
Waspadalah dengan perilaku manusia



(10) Dene katelu iku
Si kidang suka ing patinipun
Pan si gajah alena patinereki
Si ula ing patinipun
Ngandelaken upase mandos



Terjemahan: Mengenai ketiga hal tersebut; Si kijang mati
karena bersenang-senang; Si gajah karena lengah; Sedang ajal ular;
Karena mengandalkan bisanya yang manjur.
Kesimpulannya, “Jadi orang jangan sombong dengan mengandalkan kekuatan,
kekuasaan dan kepandaiannya” pada akhirnya hanya akan ngundhuh wohing
panggawe. Adapun cara mengatasi orang seperti ini dapat dibaca pada
posting berikut mengenai “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” 

Sumber: http://ajengrespati.wordpress.com/2012/03/01/serat-wulangreh-adigang-adigung-adiguna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here