Di Balik Nama Purbalingga

0
17

Di Balik Nama Purbalingga,Papeling.org | Mungkin diantara warga Purbalingga ada yang belum tahu Di balik nama Purbalingga.Kota Purbalingga kebanggaan kita ini konon dahulu hanya sebuah tempat kosong yang hanya ditumbuhi
pohon besar di mana-mana. Untuk itu tulisan ini semoga bisa menjadi penambah wawasan sejarah tentang Purbalingga.

Kabupaten Purbalingga Awal mulanya adalah pada abad 16. Saat itu
ada seseorang yang bernama KI Tepus Rumput. Ia hidup di zaman kerajaan
Cirebon. KI Tepus Rumput diutus Syeh Bakir untuk beranak cucu dan
memajukan wilayah Pengalasan Kulon. Waktu itu Sultan Adji, Raja Kerajaan
Cirebon memberi izin KI Tepus Rumput untuk pergi ke wilayah lereng
Gunung Slamet.

“Kau kuizinkan untuk pergi ke wilayah Jawa Tengah,
tapi kuperingatkan agar engkau selalu berhati-hati. Ingat bahwa bahaya
akan selalu ada di depan matamu!” kata Sultan Adji.
“Terima kasih, Raja. Saya akan segera pergi ke wilayah Jawa Tengah sesegera mungkin.” kata KI Tepus Rumput.
“Ya, kau kutempatkan di wilayah lereng Gunung Slamet. Buat wilayah di sana menjadi wilayah yang maju!” perintah Raja.
“Baik Yang Mulia. Saya mohon undur diri.” pamit KI Tepus.

Setelah
hari itu, KI Tepus dan rombongannya segera pergi ke wilayah lereng Gunung Slamet. Perjalanan panjang mereka lalui dengan berani. Tetapi
mereka juga menemui banyak kendala. Suatu ketika datang seekor
harimau buas, harimau tersebut menerkam isterinya hingga meninggal.
Saat itu KI Tepus mengalami puncak putus asanya. Ia menenangkan diri di
hutan di bawah sebuah pohon. Berhari-hari ia berdiam diri. Akhirnya Ia
mendapatkan sebuah perintah dari seseorang.

“Hai Tempus Rumput!
Jangan takut denganku, aku KI Kanthataga, kakekmu!” kata seseorang yang
tiba-tiba muncul di hadapan KI Tepus.
“Hormatku Kakek!” kata KI Tepus.
“Wahai, cucuku. Carilah cincin Soca Ludira di bawah pohon jatiwangi.” perintah KI Kantharaga.
“Baik. Akan tetapi, jika saya telah menemukan cincin tersebut apa yang harus hamba lakukan?” tanya KI Tepus.
“Serahkan
cincin Soca Ludira tersebut kepada Sultan Hadiwijaya. Niscaya engkau
akan mendapatkan apa yang engkau mau.” kata KI Kantharaga.
“Terima kasih KI!” ucap KI Tepus.

Seketika KI Kantharaga menghilang dari hadapan KI Tepus
Rumput. Setelah kejadian itu, KI Tepus mencari cincin Soca Ludira yang
KI Kantharaga maksud. Berhari-hari Ia mencari Soca Ludira dan tepat pada
hari ketujuh, KI Tepus menemukan cincin Soca Ludira. Benar, Ia
menemukannya tepat di bawah pohon jatiwangi yang paling tinggi dan
paling besar daripada pohon lainnya.

“Ya, pasti cincin
inilah yang KI Kantharaga maksud.” hatanya dalam hati. “Aku akan segera
berikan cincin ini ke Sultan Hadiwijaya.” katanya keras-keras.
Setelah itu, KI Tepus Rumput dan rombongannya segera pergi ke Kerajaan Pajang.
“Ayo semua! Kita menuju Pajang!!!” seru KI Tepus Rumput.
“Ayo!!!!!!!” sahut para prajurit dan rombongan lain.

Perjalanan menuju Pajang bukanlah perjalanan yang mudah.
Berhari-hari rombongan KI Tepus berjalan menuju Kerajaan Pajang. Saat
sampai di sana, KI Tepus masih harus berjuang meyakinkan para prajurit
istana.

“Permisi, saya Tempus Rumput dari Kerajaan
Cirebon akan menemui Sultan Hadiwijaya.” Kata KI Tepus kepada seorang
prajurit penjaga pintu istana.
“Maaf, apa keperluanmu menemui Sultan?” tanya prajurit.
“Saya akan mengikuti sayembara.” kata KI Tepus.
Sebelumnya KI Tepus sebenarnya sudah mengetahui sayembara
yang Sultan Hadiwijaya adakan, akan tetapi KI Tepus tidak pernah
berfikir untuk mengikuti sayembara itu.
“Baik, silahkan masuk.” kata prajurit istana sambil membuka gerbang besar pintu masuk kerajaan.
“Terima kasih!” ucap KI Tepus.

Setelah diperkenankan masuk, rombongan KI Tepus segera di bawa ke ruang perjamuan tamu.

“Mohon tunggu sebentar.” kata seorang penjaga.
“Baik.” kata KI Tepus dengan wajah gembira.
Tidak lama, Sultan Hadiwijaya masuk ke ruangan tersebut bersama isteri dan dayang-dayangnya.
“Hormatku Yang Mulia!” kata KI Tepus diikuti para rombongan.
“Ya. Apa yang kau bawakan padaku?” tanya Sultan Hadiwijaya.
“Yang
Mulia, saya mendengar anda mengadakan sayembara untuk menemukan cincin
permata Soca Ludira. Apakah saya boleh mengikutinya?” tanya KI Tepus.
“Ya,
benar. Apabila orang yang menemukan tersebu apabila ia laki-laki akan
kuberikan satu selir tercantikku untuknya dan apabila di perempuan akan
kupinang di sebagai isteriku.” kata Sultan Hadiwijaya. “Apakah kau
membawanya?” tanya Sultan.
“Ya Sultan. Ini..” kata KI Tepus sembari memberika cincin Soca Ludira tersebut kepada Sultan Hadiwijaya.
“Ya, benar. Ini cincin Soca Ludira saya yang hilang!” seru Sultan Hadiwijaya. “Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” tanya Sultan.
“Begini
Yang Mulia, saya menemukan cincin Soca Ludira tersebut di bawah sebuah
pohon jatiwangi saat dalam perjalanan menuju lereng Gunung Slamet.” kata
KI Tepus.
“Baik. Saya akan tepati janji saya.” kata Sultan. “Kemari Menoreh!” panggil Sultan Hadiwijaya.
“Baik Sultan!” kata Menoreh. Ia adalah selir Sultan Hadiwijaya yang paling cantik di antara yang lainnya.
“Aku
persembahkan dia untukmu. Lindungi dia karena saat ini dia sedang
mengandung empat bulan, kelak anak tersebut akan menjadi anakmu dan
Menoreh. Aku juga anugerahkan engkau menjadi Adipati Onje dan gelarmu
sekarang adalah Raden Ore-Ore.” kata Sultan yang sedang bahagia.
“Baik Sultan.” Kata KI Tepus Rumput.
“Sebelum engkau kembali ke Pengalasan Kulon, tinggallah sebentar di istana!” perintah Sultan.
KI
Tepus Rumput menerimanya. Ia tingal di istana beberapa waktu.
Selanjutnya Ia harus melanjutkan perjalanannya ke Pengalasan Kulon
bersama rombongannya dan bertambah Menoreh dan jabang bayinya.
“Kami akan segera pergi Sultan!” kata KI Tepus.
“Baik, berhati-hatilah. Sekali lagi, lindungi Menoreh. Jangan sampai Ia terluka!” pesan Sultan Hadiwijaya.
Perjalanan
kali ini juga tidak sepenuhnya berjalan mulus karena saat itu
rombongannya diikuti oleh orang jahat, namanya Jala Sutera. Namun saat
KI Tepus akan melawan Jala Sutera, ia dihalang-halangi prajuritnya
sendiri.
“Ingat Yang Mulia, anda harus melindungi Yang Mulia Menoreh.” kata seorang prajurit.
“Baik, lawan Jala Sutera sampai Ia mati!” perintah KI Tepus.
Tenyata
Jala Sutera tidak banyak memiliki ilmu bertarung, sekali Ia dijurus
oleh prajurit KI Tepus, Jala Sutera langsung kalah dan mati seketika.
“Kita lanjutkan perjalanan!” kata prajurit tersebut.
“Terima kasih!” kata KI Tepus.

Sesampainya
di Pengalasan Kulon, KI Tepus dan rombongannya bahu – membahu membentuk
sebuah daerah yang maju dan makmur. Seketika itu pula, daerah tersebut
menjadi lumbung pangan di daerah sekitarnya. Tidak terasa Menoreh telah
sembilan bulan mengandung, Ia lalu melahirkan putera yang tampan.
Walaupun anak tersebut bukan darah daging KI Tempus, Ia tetapi
menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Setelah kelahiran
puteranya tersebut, KI Tepus membawa anak tersebut kepada Sultan
Hadiwijaya, ayah kandung anak tersebut.
“Yang Mulia, anak anda telah lahir.” kata KI Tepus.
“Anak ini aku beri nama Hanyokro Kusumo, panggil dia Jimbun Lingga.” kata Sultan Hadiwijaya.
“Baik Yang Mulia!” kata KI Tepus.
“Aku do’akan Ia menjadi pemimpin yang bijaksana dan taat kepada orang tuanya.” do’a Sultan.
KI
Tepus pulang ke Pengalasan Kulon. Mereka disambut oleh warga Pengalasan
Kulon dengan suka cita. Setiap hari KI Tepus mengajari Jimbun Lingga
dengan hal-hal baik. Hingga Jimbun tumbuh menjadi pria dewasa.
KI Tepus Rumput merasa Jimbun Lingga dewasa telah siap untuk Ia bawa bekerja sama membangun daerah baru yang maju.
“Anakku, jadilah engaku pemimpin yang bijaksana!” kata KI Tepus Rumput.
“Baik Yang Mulia.” kata Jimbung Lingga.

KI
Tepus megajak Hanyokro Kusumo membentuk sebuah kawasan baru yang akan
mereka bangun di sebelah Barat Sungai Klawing. Mereka menamainya
Purbalingga. Karena daerah tersebut berasal dari kawasan purba yang
pembangunannya dipimpin oleh Hadipati Ore – Ore sendiri.

Sekarang
Purbalingga adalah sebuah kabupaten yang maju dan tidak kalah dari
daerah lainnya. Ya, Purbalingga kita ini adalah Purbalingga yang
bernilai sejarah tinggi.
Sumber:Ilham Dwi Hatmawan
Inspirator:Ali Safrudin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here